Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Kalimantan Barat

Senin, 05 Agustus 2019

 

Bertempat di Balai petitih Kantor Gubernur Kalimantan Barat, mulai jam 08.00 WIB dilaksanakan rapat koordinasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Rapat ini dipimpin langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat, Bapak Sutarmidji, S.H., M.Hum. didampingi Kepala BNPB RI Bapak Doni Monardo dan Pangdam XII Tanjungpura Bapak Mayor Jenderal TNI Herman Asaribab. Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio menghadiri rapat ini sebagai pemateri bersama dengan perwakilan Badan restorasi Gambut RI. Peserta antara lain perwakilan dari TNI, POLRI, Bupati/Walikota, Kepala BPBD Kabupaten/Kota, Instansi Vertikal dan Horizontal seKalimantan Barat.

 

Diwakili oleh Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak menyampaikan tentang perkembangan kondisi cuaca, iklim, hotspot dan kualitas udara saat ini dan prakiraannya ke depan. Bahwa saat ini berdasarkan rilis dan prakiraan BMKG Pusat dinyatakan ENSO dalam kondisi netral hingga akhir tahun 2019, kecenderungan hujan bulanan dalam kategori rendah pada bulan agustus hingga september 2019. Kondisi cuaca diprakirakan hingga akhir bulan Agustus 2019 masih cenderung belum hujan di sebagian besar wilayah Kalbar, sehingga Kalbar dalam kondisi mudah hingga sangat mudah potensi terbakarnya hutan/lahan ditinjau dari analisis parameter cuaca. Hotspot berdasarkan pantauan Lapan semakin meningkat jumlahnya. Jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak cenderung semakin menurun, khususnya poda pagi hari. Analisis trayektori asap menunjukkan arah penyebaran asap secara umum menuju arah barat laut hingga utara, Jika ada kebakaran di Kab. Ketapang, maka asap bisa terbawa sampai ke Bandara Supadio dan Kota Pontianak, Jika ada Kebakaran di Kota Pontianak, maka asap bisa terbawa hingga di sekitar Kota Singkawang, Jika ada kebakaran di Kab. Bengkayang, Kab. Landak, Kab. Sanggau dan sekitarnya, maka asap bisa menuju ke negara Malaysia. Pantauan Kualitas udara PM10 di Kota Pontianak menunjukkan pada pagi menjelang siang hari ini sudah pada kategori SEDANG.

 

Bapak Gubernur Kalbar menyampaikan beberapa arahan antara lain untuk memaksimalkan fungsi dan kegiatan Dinas terkait di Kalbar supaya bisa menekan jumlah kebakaran hutan / lahan di Kalbar. Bapak Gubernur mengajak seluruh pihak terkait dalam penanganan Karhutla untuk bekerja bersama-sama dalam upaya mencegah terjadinya Karhutla di wilayah Kalbar. Saat ini sudah didatangkan tenaga TNI, Polri, BNPB dan Masyarakat sekitar 1.500an personil, Jika tenaga ini ditambah dengan Penyuluh pertanian di seluruh Kalbar yang jumlahnya lebih dari 1.000, KPH sekitar 300 personil, dan Penyuluh Desa maka penanganan bisa lebih optimal. Pak Gubernur juga menyampaikan sanksi bagi lahan yang terbakar akan dibekukan izin usahanya selama 5 tahun.

 

Bapak Doni Monardo menyatakan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama ini dipastikannya 99 persen terjadi akibat ulah manusia. Bencana ini adalah bencana permanen, terjadi setiap tahun, jadi strategi penanggulangannya juga harus secara permanen. Mengadopsi strategi perang Sun Tzu Kita harus melakukan pendekatan kepada Masyarakat, kita harus hidup bersama-sama dengan masyarakat, kita sosialisasikan supaya jangan melaksanakan pembakaran hutan/lahan hingga masyarakat bersedia melakukan. Faktor peningkatan ekonomi sangat penting dalam kegiatan pencegahan kebakaran hutan/lahan. Kalbar posisi wilayahnya sangat strategis untuk perdagangan dunia, Jika Kalbar bisa menyediakan bahan pangan untuk Asia Timur, China dan sekitarnya yang saat ini sedang kesulitan impor gandum, maka potensi ini sangat besar pengaruhnya untuk menekan karhutla. Dinas Pertanian bersama Perguruan tinggi akan mengidentifikasi potensi jenis pangan yang cocok dikembangkan di Kalbar. Pak Doni Monardo juga menceritakan bagaimana kasus Sungai Citarum yang lebih kompleks saja bisa diatasi, apalagi kasus karhutla di Kalbar yang masyarakatnya penurut, pasti bisa diatasi.