Penyampaian Program Kerja UPT BMKG Propinsi Kalbar Pada Kunjungan Kerja Komisi V DPR

Komisi V DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Kalbar pada hari Kamis tanggal 05 maret 2020. Kunjungan kerja ini dihadiri oleh Ketua Komisi V DPR RI Bapak Lasarus beserta tim. Dalam kunjungan kerja ini, Komisi V melakukan pertemuan dan mendengar paparan dari mitra kerja seperti Kementrian PUPR, Kementrian Perhubungan, Kementrian Desa, PDT dan Transmigrasi, BNNP (Basarnas), BMKG, serta PT. AP II dan PT. Pelindo II.

 

BMKG menghadiri pertemuan ini dipimpin oleh Kepala Pusat Perubahan Iklim Bapak Dr. Dodo Gunawan bersama tim dari Biro Perencanaan BMKG, Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Stasiun Klimatologi Mempawah dan Stasiun Meteorologi Maritim Kota Pontianak. BMKG berkesempatan menyampaikan paparan mengenai kesiapan UPT BMKG Propinsi Kalimantan Barat dalam mendukung kegiatan pemerintah di beberapa sektor antara lain pada sektor transportasi BMKG telah rutin menyampaikan informasi kondisi cuaca dan prakiraannya ke depan. Dalam sektor mitigasi bencana BMKG cukup aktif menyampaikan prakiraan potensi terjadinya cuaca ekstrem, gelombang tinggi dan iklim ekstrem kepada masyarakat melalui berbagai media, seperti media sosial, website, grup percakapan whatsapp/telegram, juga media elektronik radio dan televisi. Dalam bidang perencanaan pembangunan BMKG mempunyai data iklim yang bisa mendukung pembangunan berkelanjutan.

 

Salah 1 program kerja BMKG di Kalimantan Barat tahun 2020 adalah pembangunan shelter broadband seismograph di 5 Lokasi antara lain : 2 titik di Kab. Kapuas Hulu, 1 titik di Kab. Sanggau, 1 titik di Kab. Kayong Utara dan 1 titik di Kab. Sambas. Pada tahun 2019 telah dibangun 2 titik di Kab. Ketapang. Ditambah 3 titik yang telah terpasang sebelumnya di Kab. Sintang, Kab. Kubu Raya dan Kota Singkawang, sehingga diharapkan pada akhir tahun 2020 telah bisa beroperasi 10 sensor seismograph. Kerapatan jaringan pengamatan gempabumi ini sangat penting guna mendeteksi adanya getaran akibat gempabumi di Kalbar secara tepat dan akurat.

 

Untuk diketahui sebelum tahun 2005 tercatat jumlah gempa di Kalimantan hanya 96 kejadian saja. Namun setelah dilakukan instalasi 11 sensor di Kalimantan pada tahun 2005, catatan gempabumi di Kalimantan drastis naik menjadi 290 kejadian. Artinya, data gempabumi sangat sedikit sebelum tahun 2005 disebabkan karena di Kalimantan belum ada jaringan sensor seismik. Saat itu baru ada 1 lokasi monitoring gempabumi, yaitu di Stasiun Geofisika Balikpapan.